Monday, June 20, 2011

Will of Fire

Beberapa waktu terakhir ini gue keranjingan nonton anime, yang gue yakin banyak yang familiar, tapi mungkin tidak semua pernah nonton atau baca manga-nya. Judulnya "Naruto". Untuk yang sudah pernah baca atau nonton Naruto, pasti tahu tentang ini.

The "Will of Fire" (火の意志, Hi no Ishi) dalam cerita Naruto adalah cita-cita dan keyakinan dari Hashirama Senju, pendiri desa di mana Naruto tinggal, bahwa cinta, dan bukan kekuatan, adalah kunci dari kedamaian. Cita-cita ini tidak hanya menjadi Nindō (忍道; Literally meaning "Ninja Way") dari Hashirama, tapi juga menjadi sebuah wasiat yang diteruskan ke generasi-generasi berikutnya. Will of Fire menjadi semacam semangat yang terus menggelora dalam perjuangan mereka mewujudkan kedamaian.

===

Sekitar tiga minggu yang lalu, gue menghadiri sebuah forum di DC bersama seratusan pelajar dan profesional Indonesia dari berbagai latar belakang, jenjang pendidikan dan lokasi di AS. Temanya menarik: "Transforming Indonesia into a Nations of Innovators, Entrepreneurs, Pioneers and Champions". Acaranya sendiri dikemas dalam sebuah diskusi, sebenarnya lebih mirip talkshow, yang menampilkan pembicara ternama. Silahkan google sendiri kalau mau tau tentang acara dan pembicaranya, keywordnya “Generation-21: Indonesia Ideas Forum USA 2011”.

Satu hal positif yang gw lihat, acara ini berhasil mengalirkan energi positif dan optimisme dari peserta yang hadir, walaupun secara tidak langsung. Jadi ternyata, cukup banyak dari peserta yang punya ekspektasi lebih dari acara tersebut, dan berharap sebuah hasil yang lebih nyata dari acara ini. Semangat menggelora, bikin focus group discussion, bikin plan untuk acara lanjutan, telurkan resolusi dsb.

Akhir acara, semua terlaksana. Tiga hari setelah acara, jalur komunikasi dibuat dan disosialisasikan dan mendapat respon bagus. Tiga minggu kemudian, yang aktif dari seratusan itu bisa dihitung dengan jari.

Just wondering, what does it take to create our own will of fire that will last and keep burning forever?

Gw jadi inget ngobrol dengan salah satu peserta yang mengklaim bahwa ybs sudah sering ikut acara "model" seperti ini. Katanya, "Paling tuker kartu nama, nomer telpon, email, trus bikin mailing list, habis itu bosen, ah tipikal banget..." Ah, mudah-mudahan bukan ya.. :)


Friday, October 24, 2008

It's hard to write but I have to

Gue baru sadar kalau menulis itu bukan hal yang mudah, apalagi nulis tentang kehidupan sendiri (bukan pribadi). Setelah nongkrongin komputer cukup lama, gak tau juga apa yang harus ditulis, dan berakhir dengan post ini.

Ini sebenernya juga terpaksa, karena gw baru sadar kalo gw pernah belajar dan baca banyak hal, diskusi dll dan di titik ini semua itu hilang. Gw cuman inget recent discussions, thoughts and experiences related to my current situation. Misal, gue lulus dari teknik arsitektur setelah kuliah cukup lama (ga usah disebutin ahh, berapa lamanya :p), tp kok kayaknya sedikit banget yang bisa gue inget tentang itu, sayang banget..

"Kalau menurut Imam Asy Syafii, ilmu adalah binatang buruan dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya."

Dan itu yang sepenuhnya gue rasain sekarang ini. Sepertinya ada banyak ilmu dan pengetahuan yang menari-nari di otak dan pikiran gue, tapi susah banget untuk merecall. Gue ngerasa mengalami banyak kemunduran, terutama selepas kuliah 8 tahun yang lalu, di mana sebagai pelajar, gue dituntut untuk selalu baca buku, diskusi dengan teman, persiapan ujian dan sebagainya. Gue ngerasa saat itu adalah saat gue ngerasa resourceful banget. Di dunia selepas kuliah, life seems to be more practical. Lebih banyak tacit knowledge daripada explicit knowledge.

Di samping itu, gw juga terinspirasi seseorang tentang menulis. He's right when saying that writing is one of the tools to test your comprehension. Sometimes, when we listen or watch something, we unconsciously think we understand what happened. But it gets difficult when you're told to retell the story. Atau itu mungkin yang terjadi ya dengan pengalaman gue waktu kuliah. Dateng, dengerin dosen ngasih materi, pulang, belajar ketika mau ujian. Sesudah itu, lupa. Akan beda ceritanya kalau sebelum kuliah baca materi, sesudah kuliah bikin summary yang bisa kita baca-baca lagi ketika kita mau. And it's your own writing with your own thoughts, ketika kita baca kita bisa ngerti sendiri alurnya dan lebih mudah memahaminya ketimbang membaca tulisan orang lain.

Lagi pula, writing skill juga ditentukan oleh (part of) bakat. Seperti juga diplomasi, menyanyi, persuasi, dll. Bisa dipelajari sih, tapi kan kita gak perlu jadi maestro kalau menulis untuk diri sendiri :)

Keunggulan lain dari menulis adalah menguji kebenaran. Pada saat orang baca tulisan gue, some will agree and some will don't. It's like when you're giving an argumentation. But in the end, we can always review the argumentation and develop an even better one. I am hoping to see my writing some time in the future and to laugh at it, because that means I have learned something and I saw something wrong in my previous writing.

Finally, writing can be a tool to pass on knowledge. I hope to be able to write something that can inspire people, or at least can make them learn from few of my experiences. But no worries, my real goal is to share what I see, read and hear, and then listen to all of your thoughts. So please, give me one. :)